Chivu Akui Energi Inter Milan Kalah Saat Tersingkir di Liga Champions

Bagikan

Kegagalan Inter Milan di ajang Liga Champions UEFA menjadi pukulan telak bagi publik Italia. Datang dengan status unggulan, Inter justru tersingkir secara meyakinkan dari wakil Norwegia, Bodo/Glimt, dengan agregat 5-2.

Chivu Akui Energi Inter Milan Kalah Saat Tersingkir di Liga Champions

Sejak leg pertama, Inter sudah berada dalam tekanan setelah kalah 3-1 di Norwegia. Harapan bangkit di kandang sendiri ternyata tidak berjalan sesuai rencana. Meski mendominasi penguasaan bola dan terus menekan pertahanan lawan, efektivitas tetap menjadi masalah utama.

tebak skor hadiah pulsa 100k  

Alih-alih mencetak banyak gol, Inter justru kembali dihukum lewat serangan balik cepat. Kekalahan ini terasa memalukan karena untuk pertama kalinya mereka tersingkir oleh tim di luar lima liga top Eropa dalam format Liga Champions modern.

AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!

aplikasi shotsgoal  

Cristian Chivu Soroti Rendahnya Energi

Pelatih Inter, Cristian Chivu, tidak mencari kambing hitam atas hasil buruk tersebut. Ia menilai para pemain sudah berusaha keras, tetapi mengakui ada perbedaan energi yang mencolok antara timnya dan lawan.

Menurut Chivu, Bodo tampil dengan semangat dan intensitas lebih tinggi. Inter terlihat kehabisan tenaga dalam momen-momen krusial, terutama saat harus mengejar ketertinggalan dan mengantisipasi serangan balik cepat.

Chivu juga memberi apresiasi kepada pelatih lawan, Kjetil Knutsen, yang mampu menyiapkan strategi disiplin dan efektif. Organisasi pertahanan rapat serta transisi cepat menjadi kunci keberhasilan tim tamu menyingkirkan raksasa Italia tersebut.

Baca Juga: Inter Milan Gagal di Liga Champions Usai Dikalahkan Bodo/Glimt!

Jadwal Padat Jadi Faktor Pembeda

Chivu Akui Energi Inter Milan Kalah Saat Tersingkir di Liga Champions

Salah satu hal yang mencolok adalah perbedaan jumlah pertandingan kedua tim sejak awal tahun. Inter telah memainkan 15 laga kompetitif, sementara Bodo baru menjalani empat pertandingan resmi karena kompetisi domestik Norwegia belum dimulai.

Kondisi ini membuat Bodo tampil lebih segar secara fisik dan mental. Sebaliknya, para pemain Inter terlihat kelelahan akibat jadwal padat di kompetisi domestik dan Eropa. Intensitas tinggi sepanjang musim perlahan menggerus performa mereka.

Walau jadwal bukan satu-satunya alasan, perbedaan kebugaran jelas berpengaruh. Dalam sepak bola modern, energi dan kecepatan sering kali menjadi pembeda utama, terutama ketika menghadapi tim dengan organisasi permainan solid.

Catatan Hitam dan Tantangan Kebangkitan

Kekalahan ini menjadi catatan kelam bagi Inter. Terakhir kali mereka tersingkir dengan situasi serupa terjadi saat menghadapi Schalke 04 pada musim 2010-11. Namun kali ini terasa lebih menyakitkan karena lawan datang dari liga yang tidak termasuk lima besar Eropa.

Selain itu, Inter juga harus menerima kenyataan kalah kandang dan tandang dalam fase gugur. Hal tersebut menunjukkan adanya masalah konsistensi dan mentalitas saat menghadapi tekanan di level tertinggi. Kini fokus Inter harus beralih ke kompetisi domestik. Evaluasi menyeluruh diperlukan, terutama dalam menjaga energi, rotasi pemain, dan efektivitas serangan.

Jika tidak segera berbenah, ambisi untuk kembali berjaya di Eropa akan semakin sulit terwujud. Manfaatkan juga waktu luang Anda untuk mengetahui lebih banyak lagi berita Inter Milan terupdate lainnya hanya dengan mengklik intermilanonews.com.